Showing posts with label cerita principessa. Show all posts
Showing posts with label cerita principessa. Show all posts

Rembulan Merah

Rembulan merah mengintip dari balik kelambu, dan sebatang rokok kunyalakan malam ini. Kuhisap dalam-dalam getirnya, toh ini akan menjadi yang terakhir. Sayup-sayup kudengar lantunan tembang dangdut picisan dari warung rokok Bang Madun di gang seberang. Ditingkahi teriakan bapak-bapak bau keringat yang bermain gaplek setiap malam. Malas pulang, kalau tak membawa sepeser uang. Perut istri, perut lima anak minta diisi. Belum lagi si Rohmah menagih uang sekolah, uang seragam, uang buku, dan entah uang-uang apa lagi, curhat Bang Samad satu waktu. Aku hanya tersenyum maklum, dan menggamit sekantung indomi untuk santapan malam itu.

Rembulan merah masih membisu. Entah apa keluh kesah para suami malam ini.

Kuambil rokok sebatang lagi. Kurasa ini bisa jadi benar-benar yang terakhir. Dari kamar sebelah terdengar isak tangis tersedu-sedu. Tanti. Kulihat kemarin ia membeli test pack dari apotek di sebelah salon Mpok Minah. Mungkin Rembulan Merah tahu apa yang tidak aku tahu. Satu hal yang aku mengerti, pacarnya sedang merantau ke negeri jiran. Menimba ringgit untuk bekal pernikahan. Kurasa janur kuning bakal terpasang lebih cepat dari yang direncanakan. Tetapi undangan yang dipesan harus berganti nama pasangan.

Aku tertawa kecil. Dunia ini getir, sayang. Dan tak ada yang bisa dilakukan sang Rembulan Merah kecuali menggantung di langit mendung, mengintip ke dalam jendela gadis-gadis muda dengan pakaian dalam berenda. Sayang, sungguh sayang.

Ini membuatku teringat akan dirimu, satu-satunya ‘sayang’ dalam hidupku. Kuputuskan, malam ini akan kutulis sepucuk surat padamu, kekasih hatiku.

Mereka bilang surat is so last year, tapi aku tidak peduli. Tidak sms, tidak email, tidak kata-kata manis di dinding Facebook bisa mewujudkan emosi yang tertumpah dalam sepucuk surat yang bisa kau baca ulang, kau lipat kecil dan kau masukkan dompetmu, untuk kau baca lagi ketika rindu. Ya, sudah lama sekali aku tak menulis surat padamu, mungkin kau sudah lupa bagaimana melafal merdu namaku.

Tapi pertama-tama, kumatikan dulu batang rokok yang terakhir, lalu kutarik batang ketiga. Kusulut bara api di ujungnya, ia menyala merah seperti rembulan yang tersenyum jahil di luar jendela.

Aku tahu kau membenci batang-batang rokok yang membuat ciumanku terasa seperti dasar asbak di bibirmu, tetapi apa yang bisa kau lakukan malam ini, pacarku? Kau berada jauh tak ubahnya sang rembulan merah. Pun ia bisa mengintip ke sela-sela jendelaku, mengintai seraya aku berganti baju, melihat bulir-bulir keringat berjatuhan dari leherku ketika aku menghirup batang-batang rokok di dalam kamar kos gerah dan bau apak. Tak bisa kau usap air mataku, andai malam ini aku duduk tersedu sedan meratapi rembulan. Karena kau sibuk di peraduan, menciumi istrimu yang mungkin telah menyiapkan sedikit kejutan.

Maka rokok ini saja penggantimu. Ia rahasia kecilku. Hanya dia, aku, dan rembulan merah yang tahu.

Maka kutulis sebaris kalimat yang sedari tadi membuncah di dalam dada, di atas selembar kertas yang kutujukan kepadamu:

‘Selamat hari ulang tahun pernikahan sayang, untuk kamu dan istrimu.’

Dan kuselipkan ke dalam amplop, pakaian dalam berwarna merah yang kucuri dari tiang jemuran tadi siang. Mungkin milik Tanti, kurasa ia takkan keberatan. Ada hal yang lebih penting untuk ia risaukan. Kutulis alamat rumahmu di amplop, tanpa nama pengirim. Akan kuminta loper koran langgananmu menyelipkannya di kotak surat besok pagi. Aku tahu, siapa yang mengambil koran untukmu setiap pagi layaknya seorang istri berbakti.

Di kejauhan, dangdut pantura membahana, meredam geram kemarahan suami-suami yang pulang dengan kantong agak tipisan. Di balik dinding tripleks yang kusandari, isak tangis Tanti semakin menjadi. Katanya tengah malam nanti ada gerhana, makanya rembulan berwarna kemerahan. Tapi siapa yang peduli? Mungkin kau akan dicerai istrimu esok hari. Kupilih untuk tidur nyenyak malam ini.


Tangerang Selatan/16 Juni 2011

Penunggu Cakrawala

Lama sudah aku menjadi pengamat kisah cinta yang kau tuang berdua dengannya di ranah semesta. Membaca puisi-puisimu padanya yang membuatku berdegup kencang seolah mereka ditujukan untukku. Padahal bukan. Mereka untuk pengisi mimpimu. Pelagu melodimu. Bukan aku.

Tak terindahkan lagi aku mulai menyusun romansa kecil di sudut kepalaku. Tentang dirimu yang tak pernah melihat ke arahku. Pandanganmu selalu tertuju ke cakrawala. Ke romantika senja. Kepada dirinya yang sempurna, yang membuatmu sedih karena di dalam ceritamu, kau selalu mengejarnya. Selagi ia selalu beberapa langkah di depan, hanya sesekali menunggumu mensejajarinya, lalu kemudian berlari lagi beberapa depa.

Lambat laun ia tak hanya menjadi senja. Ia bercita-cita menjadi fajar. Bersikeras memaksa sayap merahnya menjadi keemasan. Kemilaunya menyilaukan.

Bahkan di tengah usahamu mengejarnya, kau terengah-engah. Ia tak lagi berlari, ia telah mengembangkan sayapnya, belajar terbang. 'Hei,' ujarmu, 'Kau mungkin bisa terbang karena kau serupa malaikat. Tapi aku manusia fana! Yang kau cintai karena ketaksempurnaan.'

Kau mencoba menyusulnya, berusaha membelai angkasa. Namun kau terjatuh di beberapa kesempatan: sayap kayumu tak jua membuatmu mampu melawan gravitasi.

Pada masa seperti ini aku, yang hanya mampu memandangmu di kejauhan, seringkali memekik tertahan, menahan napas, menahan rasa sakit dari dalam. Melihatmu terkapar tak berdaya seperti itu, aku harus memalingkan wajah berulang-ulang kali.

Pada masa seperti ini aku, yang wajahnya tak kau kenali, hanya bisa menggigit bibir penuh harap, memanggil-manggil namamu dalam hati. Berharap kau akan melihat ke arahku. Aku, yang tak berusaha menjadi siapa-siapa. Dan tak berharap kau menjadi siapa pun. Selain kamu, dan kamu seorang.

Suatu hari nanti kau akan lelah mencoba menyusul dirinya, yang tak bisa kau rantai ke tanah untuk bisa bersanding denganmu. Suatu hari nanti, kau akan berjalan lagi seperti biasa tanpa hiraukan dirinya dan sayapnya yang keemasan. Kau akan menjadi dirimu lagi, yang selalu kukagumi dan kuanggap sempurna, Sang Penunggu Cakrawala.

Lalu kau akan menemukanku di jalan setapak yang kau lalui. Suatu hari nanti.

Terima kasih untuk inspirasi.


Daisypath Anniversary Years Ticker

Selamat Datang!

Ini adalah bagian kecil dari dunia saya, sepenggalan cerita. Setelah saya memutuskan bahwa Buon Giorno, Principessa! akan menjadi rumah bagi pikiran-pikiran yang tertuang dalam bahasa Inggris, saya merasa memerlukan ruang baru bagi celoteh-celoteh bahasa ibu yang kerap bising memenuhi benak ini. Maka, inilah dia. Cerita Principessa. Suatu ruang baru dalam kisah saya, yang suka dipanggil Principessa. Ruang pikiran, yang (semoga) lebih bersahaja karena bahasanya lebih kau kenal untuk kau resapi maknanya.

Maka selamat datang! Tak perlulah terburu-buru pulang..

Menyapa

Menyapa
Dalam ranah maya, sebut ia 'Principessa'. Di dunia nyata, ia hanya gadis kecil yg senang bercerita...

Yang disuka

Yang disuka
buku-buku

arsitektur

hot chocolate

sensasi kesendirian di kota asing

LOVE. don't we all? =)

Etiquetas

Powered By Blogger

Para Pendatang