Menyahajakan Pagi


Selama ini kurasa pagi adalah sosok yang angkuh. Sayap emasnya merentang megah, redupkan kejora. Batang hidungnya menengadah angkuh, selagi manusia-manusia di penjuru dunia berkejaran untuk mendapatkan yang terbaik darinya.

Senja berbeda. Ia bersahaja. Dengan sengaja membungkukkan dirinya – mengalah untuk meredup – membuka jalan untuk mimpi-mimpi saling bertautan.

“Namun pagi yang hembuskan nyawa pada mimpi-mimpi, berikan mereka kaki-kaki untuk berlari,” tukasmu. Aku terhenyak mengetahui kau masih di sisiku. Kau, yang selalu menyahajakan pagi.


Berlari. Itulah segalanya tentangmu. Kau menolak stagnansi. Kau hanya, dan senantiasa, berlari pada kecupan pertama pagi. Tak pernah terlihat lagi hingga senja mengetuk dan kau kutemukan, namun tak pernah untuk kugenggam.

“Itu semua hanya ilusi!” sanggahku, “Kau kira berapa banyak orang patah hati karena pagi? Ia padamkan mimpi yang kutitipkan bersama canda bintang-bintang!”

Kau tergelak dalam renyah tawamu yang biasanya. “Hanya mereka yang terlalu takut menggenggam realita yang menolak untuk merengkuh pagi.”

Kata-katamu menohokku telak, dan aku terdiam. Kau adalah perpaduan absurd antara udara malam dan Absynthe yang ditenggak pukul dua dini hari. Pelukanmu terasa, sentuhanmu menyengat, namun kehadiranmu tak pernah bisa terdefinisi.

Tentang pagi, dan tentangmu, tak pernah sederhana. Ia kompleks, dalam belitan eskapologi rasa. Kau menyongsong pagi untuk berlari dari hari kemarin. Sementara aku bersusah payah berdiri pada batas, mempertahankan tautan tipis antara mimpi dan memori.

Pagi menggantungkan paras wajahmu di batas angan, sementara malam hadirkannya dalam realitas maya, walau temaram.

Tapi kau takkan pernah mengerti, betapa ku takkan pernah bisa menyahajakan pagi. Yang lenyapkan hangatmu dalam kibarannya di kisi-kisi jendela. Yang membuatku terbangun tanpa sempat kecupkan selamat jalan pada bayanganmu yang menghilang di luar pagar rumahku.

Tentang Menjadi Orang Tua: Sebuah Refleksi dari Sudut Pandang Seorang Anak



Berada jauh dari orang tua sebagai seorang Pengajar Muda memberikan saya banyak waktu untuk berpikir banyak mengenai pola pengasuhan orang tua. Kesempatan ini juga membuat saya lebih mengapresiasi cara-cara yang dilakukan orang tua saya untuk membesarkan dan mendidik saya dan adik-adik saya, meskipun dalam perjalanannya saya sering tak setuju dengan cara mereka. Namun berada jauh dari mereka membuat saya melihat segalanya dengan kaca mata yang berbeda dan mempengaruhi pandangan saya mengenai bagaimana pendidikan orang tua yang seharusnya.

Pertama-tama, kedua orang tua saya datang dari latar belakang keluarga yang cukup religius. Tak terelakkan, mereka memperkenalkan nilai-nilai agama sejak dini kepada saya dan adik-adik saya. Sejauh-jauh saya melemparkan memori masa kecil saya, pasti ada kenangan belajar mengaji di masjid dekat rumah bersama teman-teman di sore hari. Pun ketika kami pindah ke Bandung, mereka memasukkan saya ke SD Islam. Di sanalah saya mulai mempelajari segala yang saya perlu tahu mengenai ajaran Islam. Sedini ini pulalah saya mulai mempertanyakan esensi dari setiap ajaran, karena lingkungan sekolah yang membiasakan berpikir kritis. Saya rasa lingkungan keluarga dan sekolah yang demikian lah yang mendukung saya untuk mulai mengembangkan pemikiran spiritual yang kuat sejak dini.

Meski religius, keluarga saya juga cukup demokratis dalam mendukung anak-anaknya meraih cita-cita. Saya ingat suatu percakapan yang terjadi di ruang keluarga kami sebelum saya berangkat ke Amerika Serikat dalam rangka pertukaran pelajar Youth Exchange and Studies (YES) yang diselenggarakan AFS dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, kala itu beberapa relawan AFS datang untuk mewawancarai keluarga saya. Salah satu relawan tersebut bertanya, “Salah satu kekhawatiran terbesar bagi orang tua ketika mengirimkan anak-anak mereka ke luar negeri adalah perbedaan budaya antara negara asal dan negara tujuan. Apakah Bapak dan Ibu tidak khawatir anak Bapak akan terpengaruh hal-hal negatif, seperti minum alkohol, pergaulan bebas, dan semacamnya?” Jawaban Ayah saya saat itu masih terngiang-ngiang di kepala saya hingga kini, “Kami sudah mengajarkan semua nilai-nilai agama yang perlu ia ketahui sepanjang hidupnya. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Sekarang adalah saatnya untuk anak kami memutuskan sendiri, apa yang sesungguhnya baik dan buruk. Tanpa pengalaman ini, ia tak akan pernah benar-benar memahami, apakah hal-hal buruk tersebut memang buruk baginya.”

Saya merasa beruntung telah dibesarkan oleh orang tua seperti beliau.

Dalam pelatihan Indonesia Mengajar yang harus saya ikuti sebelum mengajar di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur; Bapak Munif Chatib – edukator yang menulis buku Gurunya Manusia dan Sekolahnya Manusia– menekankan bahwa seorang pendidik harus selalu mengerti bahwa setiap anak memiliki ‘harta karun’ di dalam dirinya, yaitu suatu potensi yang harus didukung dan diasah sepanjang masa tumbuh kembangnya. Saya rasa hal ini berlaku pula dalam pola pengasuhan di keluarga, karena keluarga adalah pendidikan yang utama dan pertama bagi setiap anak. Orang tua seharusnya mampu menemukan ‘harta karun’ terpendam yang dimiliki anaknya, dan mengasahnya hingga menjadi berlian yang tak ternilai harganya. Hal inilah yang dilakukan orang tua saya.

Setelah adik saya didiagnosis memiliki kecenderungan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) yang menyebabkannya sulit berkonsentrasi dalam waktu lama dan energi berlebih hingga cenderung hiperaktif, orang tua saya bekerja keras untuk melakukan segala hal supaya adik saya tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka menyadari, adik saya mungkin tak akan menjadi juara kelas, nilai-nilainya tak akan sebaik nilai teman-teman sekelasnya –hanya cukup untuk melalui setiap tahunnya– tetapi orang tua saya memegang prinsip bahwa setiap anaknya harus memiliki kebanggaan dalam hidupnya, tak terkecuali adik saya. Ketika ia duduk di kelas 2 SD, orang tua saya menemukan harta terpendam adik saya, yaitu ketertarikannya akan olah raga baseball. Sejak saat itu pula lah orang tua saya mengasah intan terpendam dalam diri adik saya, supaya ia bisa berhasil dalam olah raga yang dicintainya. Semua kerja keras itu terefleksikan dalam koleksi trophy dan medali yang ia kumpulkan, dan kini terpajang rapi di ruang duduk rumah kami, terima kasih kepada Ayah dan Ibu.

Jika kau pikir hubungan jarak jauh itu sulit, cobalah pengasuhan jarak jauh. Itu yang dilakukan orang tua saya selama bertahun-tahun.

Setelah beberapa tahun hidup bahagia di Bandung, keluarga kami mengalami krisis finansial ketika saya duduk di kelas 1 SMA. Akibatnya Ayah harus kembali memulai ulang di Jakarta, dan menjalankan bisnisnya dari sana. Pada saat itu kami sekeluarga telah merasa nyaman tinggal di Bandung, dan untuk pindah ke Jakarta merupakan suatu gagasan absurd. Akhirnya diputuskan bahwa Ayah saya akan melakukan nglaju, yakni berpindah secara mingguan antara Jakarta-Bandung, dan ini sebelum tol Cipularang dibangun, sehingga ia harus naik kereta api atau pesawat setiap senin pagi dan jumat malam. Konsekuensinya, Ibu harus membesarkan tiga anaknya sendiri akibat keadaan ini. Tapi ia berhasil melakukannya dengan baik dan berkelas.

Ibu adalah seorang yang kuat dan mandiri, saya rasa tak heran jika saya pun ingin tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri seperti ia. Kami memiliki banyak kesamaan: keras kepala, emosional, dan tak ragu menyuarakan pendapat yang kami anggap benar. Berpengalaman menikah di usia muda membuatnya melarang keras anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. Ia selalu berkata, “Sebagai perempuan, kamu tidak boleh tergantung pada suami. Sekolah yang tinggi, raih penghasilan sendiri. Kalau sudah begitu, baru kamu boleh menikah.” Memiliki teladan seperti Ibu membuat saya tumbuh memiliki segudang ambisi dan cita-cita. Itu karena saya ingin meraih hal-hal yang tak sempat Ibu raih karena menikah di usia muda.

Namun demikian, menjadi orang tua semi-tunggal seperti Ibu bukanlah perkara mudah. Bayangkan, suatu hari anak laki-lakimu bertanya, “Bu, mimpi basah itu apa sih?” ketika kau sudah melewati suatu hari yang melelahkan dan hanya ingin bersantai meminum kopi dan menonton sinetron. Namun di situasi seperti itu Ibu hanya tertawa geli dan berkata, “Telepon ayahmu sana!” Ini bukan persoalan tabu atau tidak membahas seks di rumah kami, ini mengenai betapa hebatnya mereka menjalankan pengasuhan jarak jauh sehingga tak satu pun di antara anak-anaknya yang merasa kekurangan kasih sayang. Mereka mampu mengisi kekosongan yang direbut oleh jarak dan melengkapi satu sama lain, meski tak selalu berdiri berdampingan. Dalam pengasuhan orang tua, sangat penting bagi setiap pihak untuk mengerti perannya masing-masing.

Bagaimanapun juga, jika boleh jujur, orang tua saya pun tidak sempurna. Pola pengasuhan mereka pada awalnya pun memiliki cacad. Sewaktu kecil, saya merasakan sakitnya kekerasan verbal maupun fisik sebagai akibat dari kerasnya orang tua saya berusaha mendidik. Contohnya waktu saya duduk di kelas 1 SMP dan ingin pergi menonton film bersama teman-teman. Masalahnya, saya baru saja lulus dari SD Islam yang cukup disiplin dan melanjutkan ke SMP negeri yang aturannya lebih longgar. Orang tua saya khawatir saya akan salah pergaulan dan mengembangkan kebiasaan buruk, seperti merokok, membolos, dan sebagainya.Maka orang tua saya melarang pergi menonton tanpa pengawasan orang dewasa. Akibatnya terjadi perdebatan panjang, suatu hal yang tak asing di rumah saya pada masa itu.

Pahitnya pengasuhan keras orang tua saya alami selama saya kecil, padahal saya yakin saya bukan anak yang nakal. Saya selalu mempertahankan prestasi belajar tak kurang dari peringkat tiga besar di kelas. Kerasnya orang tua membuat saya tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan sekaligus tertutup. Lambat laun orang tua saya menyadari bahwa kekerasan bukanlah teknik pengasuhan terbaik. Kini mereka bersikap lebih lunak dalam menghadapi adik-adik saya.

Pada suatu titik saya bersumpah tidak akan menjadi seperti orang tua saya jika punya anak nanti, tetapi setelah menjadi guru kini, saya melihat bahwa segala hal yang tidak saya setujui dari orang tua saya menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar, dan kekurangan seseorang sesungguhnya menyempurnakan ketidaksempurnaan. Orang tua saya tidak sempurna, tetapi saya tahu, mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menjadi sempurna. Jika saya refeksikan kini, tanpa pengasuhan keras yang dilakukan orang tua saya, mungkin saya akan tumbuh tanpa tekad dan cita-cita yang kuat, dan menjadi orang yang tak memiliki idealisme yang kukuh. 

Memiliki orang tua yang jauh dari ideal nyatanya berhasil. Mungkin bahkan tak ada satu cara yang ideal mengenai bagaimana mendidik anak. Seandainya saya membuang semua teknik pengasuhan yang kurang baik yang saya rasakan di masa kecil dan melahap semua buku di perpustakaan tentang parenting pun, belum tentu saya akan menjadi orang tua yang sehebat orang tua saya. Menjadi orang tua, pada esensinya, merupakan suatu proses pembelajaran yang tiada akhir.

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung – 19 Agustus 1978 )

Neneng Jadi Pengibar Bendera


Di suatu Selasa siang yang terik, aku masuk ke kelas 5 karena sesuai jadwal aku harus mengajar matematika di kelas tersebut. Terkejut kulihat seorang muridku merah matanya. Wajahnya bersimbah air mata. Kutanya, "Mengapa Neneng menangis?"

Ya, Neneng panggilannya. Kata guru-guru ia memang lambat dalam belajar. Beberapa murid pun entah mengapa terkadang tampak enggan berteman dengannya. Namun di rapat kelas sehari sebelumnya Neneng bersemangat mengajukan diri untuk menjadi petugas upacara. Jadi pengibar bendera, lebih tepatnya.

Memang ini sudah memasuki minggu keduaku mengajar di SDN 019 Long Kali, Desa Maruat, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Hari Senin kemarin adalah kali pertama sekolah kami kembali menghidupkan upacara bendera setelah sekian lama vakum. Yang menjadi petugas upacara di hari Senin kemarin adalah siswa-siswi kelas 6, dan minggu berikutnya giliran murid kelas 5 yang menjadi petugas. Untuk membiasakan budaya musyawarah di sekolah, kubiasakan murid-murid sendiri yang menentukan siapa yang menjadi petugas upacara dalam musyawarah kelas. Ketika Neneng mengajukan diri, semua setuju. Kulihat matanya berbinar-binar penuh semangat. Namun mengapa hari ini ia tampak sedih?

"Kata teman-teman saya bodoh, Bu. Tidak bisa diajari. Tidak bisa jadi petugas," ujar Neneng, masih dengan berlinangan air mata.

Tentu aku semakin terkejut. Bukannya tidak biasa menemukan anak-anak mengata-ngatai temannya sendiri, namun kali ini kulihat sendiri di depan mataku seorang anak betul-betul 'patah hati' akibat dari perkataan temannya sendiri.
"Betulkah ada yang menyebut Neneng tidak bisa diajari?" tanyaku. Semua diam. Salah satu murid akhirnya menyahut, "Yang bilang anak kelas 6, Bu!"

Aku terdiam. Tak ada gunanya juga mencari-cari siapa yang mengatakan apa. Bisa makin panjang urusan.
"Teman-teman, ketika seseorang mengajukan diri untuk jadi petugas, tandanya apa?" tanyaku. Murid-muridku saling pandang, mungkin bingung mau menjawab apa. "Itu tandanya dia mau belajar. Betul tidak?" tukasku lagi.

"Betul, Bu!" sahut mereka.

"Nah, kalau teman kita mau belajar, apa boleh kita menghalangi?" ujarku.

"Tidak, Bu!"

"Kalau begitu kita berikan kesempatan kepada Neneng untuk belajar ya? Semua setuju ya?"

"Setuju, Bu!"

Ketika kukira kami bisa lanjut untuk mulai belajar, tiba-tiba Neneng menyambung, "Sudah, Bu. Saya mundur saja, ndak jadi petugas." Rupanya masih dongkol ia. "Sudah, sudah. Lupakan. Ibu yakin kamu bisa, jadi kamu juga harus yakin ya?" Sedih rasanya melihat perkataan teman menjatuhkan kepercayaan dirinya seperti itu. Namun akhirnya kuyakinkan Neneng untuk tetap menjadi petugas pengibar bendera Senin depan.

Petugas upacara berlatih setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu menjelang upacara. Maka Kamis pagi sebelum kelas masuk kupanggil Neneng beserta dua kawan pengibarnya, Jais dan Lutfi, untuk berlatih. Awalnya memang sulit melatih anak-anak yang tidak terbiasa dengan baris berbaris ini untuk bisa berbaris dalam gerakan yang teratur dan seragam. Kulihat Neneng bahkan beberapa kali nyaris putus asa karena ia merasa kesulitan menghapal aba-aba dan gerakan-gerakan yang harus dilakukan. "Bu, saya mundur saja Bu, saya tidak bisa," tukasnya. Namun aku bersikeras, "Ibu yakin kalian bertiga bisa. Ayo kita latihan satu kali lagi!"

Kalau boleh jujur, aku memang merasa sedikit khawatir dengan petugas upacara kali ini. Minggu lalu ketika melatih kelas 6, rasanya tidak sesulit ini. Tapi kuingat pesan Pak Munif Chatib di pelatihan intensif Pengajar Muda, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Sebagai pengajar, kita harus sabar dalam membuka 'peti harta karun' yang dimiliki setiap anak. Namun rupanya kesabaran murid ada batasnya juga. Sudah bosan mereka kuminta berkali-kali mengulangi gerakan jalan di tempat dan langkah tegak maju jalan. Akhirnya kuizinkan mereka untuk menghentikan latihan di hari Jumat, untuk dilanjutkan di hari berikutnya.

Di hari Sabtu, aku harus pulang lebih awal karena harus menuju Tanah Grogot untuk rapat koordinasi dengan tim Paser. Oleh karena itu kutugaskan petugas upacara minggu lalu, yaitu siswa-siswi kelas 6 untuk melatih adik-adiknya. Ini sengaja kulakukan, supaya timbul kesadaran dari diri siswa sendiri untuk saling membantu dalam latihan upacara. Supaya ke depannya mereka tidak harus bergantung pada guru maupun PM yang bertugas di sekolah tersebut untuk menjalankan upacara. Sepanjang perjalanan menuju Tanah Grogot dan kembali pulang, tak henti-hentinya aku berdoa, semoga Neneng dan kawan-kawan dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Akhirnya hari Senin yang ditunggu-tunggu datang juga. Kupasangkan selempang bertuliskan 'Petugas Upacara' pada murid-murid yang bertugas. Kuajak semua petugas untuk menyatukan tangan dan berdoa bersama sebelum menjalankan tugasnya.

Tibalah giliran Neneng, Lutfi, dan Jais mengibarkan bendera. Diam-diam kusilangkan jari-jari tangan di belakang punggung, berdoa semoga tidak terjadi kesalahan. Namun ternyata dugaanku salah. Dengan lancar Neneng sebagai pembawa bendera memimpin aba-aba baris berbaris yang awalnya sulit ia hapalkan itu. Pun ketiga muridku itu dengan gagah mampu membawa Sang Merah Putih berdiri tegak di puncak tiang. Ketika mereka kembali ke barisan, aku bertepuk kecil di belakang. Kuacungkan dua jempol. Neneng tersenyum senang.

Ketika tiba giliran kelas 4 berlatih upacara di Jumat berikutnya, kulihat Neneng dengan bersemangat membantu adik kelasnya berlatih. Rasa malu dan tidak percaya diri  tak kulihat lagi di wajahnya. Aku bangga, Neneng berhasil jadi Pengibar Bendera. :)

Oktavina Q. Ayun
Pengajar Muda Paser

#SelamatkanAnakBangsa : Cintai Buku, Matikan Televisimu

Dengan konten televisi lokal kita yang memprihatinkan, serta sangat minimnya tayangan yang mendidik, apalah ruginya mengurangi waktu 2-3 jam sehari untuk mematikan televisi dan membaca buku? Membaca buku membuka imajinasi, menambah pengetahuan, memperkaya kepribadian, dan terlebih lagi: HEMAT ENERGI.

(sumber gambar)

Pikirkan kembali, berapa jam dihabiskan di dalam rumahmu untuk menonton televisi? Berapa unit televisi yang dikuasai masing-masing anggota keluarga? Berapa jam waktu terbuang yang sebetulnya dapat digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga, bertatap muka, atau melakukan hal-hal yang betul-betul bermanfaat?

Di dalam era informasi sekarang ini, informasi mengalir deras dengan cepatnya, hingga terkadang sulit untuk memilah-milah informasi mana yang baik dan informasi mana yang buruk. Televisi berperan besar dalam mempengaruhi perilaku generasi muda dengan mudah ke arah yang negatif: mempengaruhi mental, sikap, pola pikir, gaya hidup konsumtif, dan lain-lain. Sebut saja sinetron-sinetron yang seringkali tidak menawarkan pesan moral yang baik --perilaku tidak sopan terhadap yang lebih tua, bersikap kasar pada teman sebaya-- (ditambah akting yang buruk dan alur cerita yang klise), atau reality show semakin terlihat tidak real, serta infotainment yang mengaburkan nilai-nilai prinsipil yang perlu kita pegang. Di atas semua itu, televisi menjadikan bangsa kita bangsa yang dramatis: segala hal dijadikan drama berlebihan: kekalahan di kontes dihadapi dengan tangisan, sidang wakil rakyat menjadi bahan tertawaan). Apa yang betul-betul dapat kita pelajari dari berjam-jam menonton televisi? Mana kontrol yang sepatutnya dilakukan oleh otoritas atas informasi yang dapat diserap pemirsa, terutama generasi muda?


Di kala lembaga pertelevisian kita menolak untuk memilah-milah hal tersebut untuk kita, tangan kita lah yang memegang kontrol: Matikan televisimu! Mulailah membaca buku.


Sangat banyak yang dapat kita peroleh dari sebuah buku. Banyak cerita rakyat Indonesia yang mengajarkan kepahlawanan dan sikap santun terhadap orang tua, hal-hal yang mengingatkan kita akan identitas diri sebagai bangsa timur. Hidupkan kisah perjuangan para pahlawan, supaya generasi muda lebih menghargai perjuangan meraih kemerdekaan, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Pergi berpetualang ke Mesir atau Lembah Amazon, pelajari kebudayaan dan peradaban baru. Gunakan imajinasi dan rasakan petualangan yang mendebarkan!


Buku membuka ranah imajinasi, membiarkan kepribadian kita berkembang kepada segala kemungkinan, membuka forum-forum diskusi yang mendekatkan hubungan persaudaraan, membawa kita ke tempat-tempat baru tanpa harus jauh-jauh beperjalanan, dan membiarkan kita bermimpi setinggi-tingginya, membentuk cita sejak dini. Ajak adik, keponakan, anak-anak kita untuk belajar mencintai buku. Bacakan mereka buku, jauhkan mereka dari televisi, terutama dari program-program yang kurang mendidik. Pun ketika menonton tv, bantu mereka memilah mana program yang baik, dan matikan tv ketika sudah waktunya untuk tidur dan belajar. Bawa mereka bermain ke luar: hidupkan petualangan yang tadinya hanya dinikmati secara pasif dari tayangan televisi. Jangan biarkan generasi muda menjadi generasi yang terpaku pada kotak 32 inci, yang tak bisa mengembangkan khayalan dan kepribadiannya sendiri.


Matikan televisi, dan mulailah membaca buku. Biarkan otakmu berpikir untuk dirimu sendiri, jangan biarkan televisi berpikir untukmu. Sisihkan waktu untuk membaca, membacakan buku untuk adikmu, dan mendiskusikan isi buku dengan seluruh anggota keluarga. Selain menghemat energi, kegiatan ini juga bisa meningkatkan intensitas kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama.


Membaca buku juga merupakan kegiatan yang murah sebetulnya, sayangnya tak semua keluarga Indonesia memiliki akses untuk memperolehnya. Oleh karena itu, coba tengok sekelilingmu. Adakah masyarakat yang membutuhkan akses kepada bacaan-bacaan bermutu? Mengapa tidak menggalang buku-buku dari perpustakaan pribadimu atau kawan-kawanmu untuk dibuat taman bacaan atau perpustakaan di komunitas yang membutuhkan? Atau coba akses @Penyala, dan mungkin seorang anak dari pulau terluar Indonesia dapat menikmati petualangan favoritmu ketika kecil dulu. Aksi-aksi sederhana yang dimulai dari diri sendiri dapat menjadi pemicu untuk menjadikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Maka, mari bersama-sama #SelamatkanAnakBangsa. Jauhkan mereka dari pengaruh negatif yang bersumber dari media. Cintai buku, matikan televisimu.


Selamat Datang!

Ini adalah bagian kecil dari dunia saya, sepenggalan cerita. Setelah saya memutuskan bahwa Buon Giorno, Principessa! akan menjadi rumah bagi pikiran-pikiran yang tertuang dalam bahasa Inggris, saya merasa memerlukan ruang baru bagi celoteh-celoteh bahasa ibu yang kerap bising memenuhi benak ini. Maka, inilah dia. Cerita Principessa. Suatu ruang baru dalam kisah saya, yang suka dipanggil Principessa. Ruang pikiran, yang (semoga) lebih bersahaja karena bahasanya lebih kau kenal untuk kau resapi maknanya.

Maka selamat datang! Tak perlulah terburu-buru pulang..

Menyapa

Menyapa
Dalam ranah maya, sebut ia 'Principessa'. Di dunia nyata, ia hanya gadis kecil yg senang bercerita...

Yang disuka

Yang disuka
buku-buku

arsitektur

hot chocolate

sensasi kesendirian di kota asing

LOVE. don't we all? =)

Para Pendatang