Menyahajakan Pagi


Selama ini kurasa pagi adalah sosok yang angkuh. Sayap emasnya merentang megah, redupkan kejora. Batang hidungnya menengadah angkuh, selagi manusia-manusia di penjuru dunia berkejaran untuk mendapatkan yang terbaik darinya.

Senja berbeda. Ia bersahaja. Dengan sengaja membungkukkan dirinya – mengalah untuk meredup – membuka jalan untuk mimpi-mimpi saling bertautan.

“Namun pagi yang hembuskan nyawa pada mimpi-mimpi, berikan mereka kaki-kaki untuk berlari,” tukasmu. Aku terhenyak mengetahui kau masih di sisiku. Kau, yang selalu menyahajakan pagi.


Berlari. Itulah segalanya tentangmu. Kau menolak stagnansi. Kau hanya, dan senantiasa, berlari pada kecupan pertama pagi. Tak pernah terlihat lagi hingga senja mengetuk dan kau kutemukan, namun tak pernah untuk kugenggam.

“Itu semua hanya ilusi!” sanggahku, “Kau kira berapa banyak orang patah hati karena pagi? Ia padamkan mimpi yang kutitipkan bersama canda bintang-bintang!”

Kau tergelak dalam renyah tawamu yang biasanya. “Hanya mereka yang terlalu takut menggenggam realita yang menolak untuk merengkuh pagi.”

Kata-katamu menohokku telak, dan aku terdiam. Kau adalah perpaduan absurd antara udara malam dan Absynthe yang ditenggak pukul dua dini hari. Pelukanmu terasa, sentuhanmu menyengat, namun kehadiranmu tak pernah bisa terdefinisi.

Tentang pagi, dan tentangmu, tak pernah sederhana. Ia kompleks, dalam belitan eskapologi rasa. Kau menyongsong pagi untuk berlari dari hari kemarin. Sementara aku bersusah payah berdiri pada batas, mempertahankan tautan tipis antara mimpi dan memori.

Pagi menggantungkan paras wajahmu di batas angan, sementara malam hadirkannya dalam realitas maya, walau temaram.

Tapi kau takkan pernah mengerti, betapa ku takkan pernah bisa menyahajakan pagi. Yang lenyapkan hangatmu dalam kibarannya di kisi-kisi jendela. Yang membuatku terbangun tanpa sempat kecupkan selamat jalan pada bayanganmu yang menghilang di luar pagar rumahku.

Tentang Menjadi Orang Tua: Sebuah Refleksi dari Sudut Pandang Seorang Anak



Berada jauh dari orang tua sebagai seorang Pengajar Muda memberikan saya banyak waktu untuk berpikir banyak mengenai pola pengasuhan orang tua. Kesempatan ini juga membuat saya lebih mengapresiasi cara-cara yang dilakukan orang tua saya untuk membesarkan dan mendidik saya dan adik-adik saya, meskipun dalam perjalanannya saya sering tak setuju dengan cara mereka. Namun berada jauh dari mereka membuat saya melihat segalanya dengan kaca mata yang berbeda dan mempengaruhi pandangan saya mengenai bagaimana pendidikan orang tua yang seharusnya.

Pertama-tama, kedua orang tua saya datang dari latar belakang keluarga yang cukup religius. Tak terelakkan, mereka memperkenalkan nilai-nilai agama sejak dini kepada saya dan adik-adik saya. Sejauh-jauh saya melemparkan memori masa kecil saya, pasti ada kenangan belajar mengaji di masjid dekat rumah bersama teman-teman di sore hari. Pun ketika kami pindah ke Bandung, mereka memasukkan saya ke SD Islam. Di sanalah saya mulai mempelajari segala yang saya perlu tahu mengenai ajaran Islam. Sedini ini pulalah saya mulai mempertanyakan esensi dari setiap ajaran, karena lingkungan sekolah yang membiasakan berpikir kritis. Saya rasa lingkungan keluarga dan sekolah yang demikian lah yang mendukung saya untuk mulai mengembangkan pemikiran spiritual yang kuat sejak dini.

Meski religius, keluarga saya juga cukup demokratis dalam mendukung anak-anaknya meraih cita-cita. Saya ingat suatu percakapan yang terjadi di ruang keluarga kami sebelum saya berangkat ke Amerika Serikat dalam rangka pertukaran pelajar Youth Exchange and Studies (YES) yang diselenggarakan AFS dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, kala itu beberapa relawan AFS datang untuk mewawancarai keluarga saya. Salah satu relawan tersebut bertanya, “Salah satu kekhawatiran terbesar bagi orang tua ketika mengirimkan anak-anak mereka ke luar negeri adalah perbedaan budaya antara negara asal dan negara tujuan. Apakah Bapak dan Ibu tidak khawatir anak Bapak akan terpengaruh hal-hal negatif, seperti minum alkohol, pergaulan bebas, dan semacamnya?” Jawaban Ayah saya saat itu masih terngiang-ngiang di kepala saya hingga kini, “Kami sudah mengajarkan semua nilai-nilai agama yang perlu ia ketahui sepanjang hidupnya. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Sekarang adalah saatnya untuk anak kami memutuskan sendiri, apa yang sesungguhnya baik dan buruk. Tanpa pengalaman ini, ia tak akan pernah benar-benar memahami, apakah hal-hal buruk tersebut memang buruk baginya.”

Saya merasa beruntung telah dibesarkan oleh orang tua seperti beliau.

Dalam pelatihan Indonesia Mengajar yang harus saya ikuti sebelum mengajar di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur; Bapak Munif Chatib – edukator yang menulis buku Gurunya Manusia dan Sekolahnya Manusia– menekankan bahwa seorang pendidik harus selalu mengerti bahwa setiap anak memiliki ‘harta karun’ di dalam dirinya, yaitu suatu potensi yang harus didukung dan diasah sepanjang masa tumbuh kembangnya. Saya rasa hal ini berlaku pula dalam pola pengasuhan di keluarga, karena keluarga adalah pendidikan yang utama dan pertama bagi setiap anak. Orang tua seharusnya mampu menemukan ‘harta karun’ terpendam yang dimiliki anaknya, dan mengasahnya hingga menjadi berlian yang tak ternilai harganya. Hal inilah yang dilakukan orang tua saya.

Setelah adik saya didiagnosis memiliki kecenderungan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) yang menyebabkannya sulit berkonsentrasi dalam waktu lama dan energi berlebih hingga cenderung hiperaktif, orang tua saya bekerja keras untuk melakukan segala hal supaya adik saya tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka menyadari, adik saya mungkin tak akan menjadi juara kelas, nilai-nilainya tak akan sebaik nilai teman-teman sekelasnya –hanya cukup untuk melalui setiap tahunnya– tetapi orang tua saya memegang prinsip bahwa setiap anaknya harus memiliki kebanggaan dalam hidupnya, tak terkecuali adik saya. Ketika ia duduk di kelas 2 SD, orang tua saya menemukan harta terpendam adik saya, yaitu ketertarikannya akan olah raga baseball. Sejak saat itu pula lah orang tua saya mengasah intan terpendam dalam diri adik saya, supaya ia bisa berhasil dalam olah raga yang dicintainya. Semua kerja keras itu terefleksikan dalam koleksi trophy dan medali yang ia kumpulkan, dan kini terpajang rapi di ruang duduk rumah kami, terima kasih kepada Ayah dan Ibu.

Jika kau pikir hubungan jarak jauh itu sulit, cobalah pengasuhan jarak jauh. Itu yang dilakukan orang tua saya selama bertahun-tahun.

Setelah beberapa tahun hidup bahagia di Bandung, keluarga kami mengalami krisis finansial ketika saya duduk di kelas 1 SMA. Akibatnya Ayah harus kembali memulai ulang di Jakarta, dan menjalankan bisnisnya dari sana. Pada saat itu kami sekeluarga telah merasa nyaman tinggal di Bandung, dan untuk pindah ke Jakarta merupakan suatu gagasan absurd. Akhirnya diputuskan bahwa Ayah saya akan melakukan nglaju, yakni berpindah secara mingguan antara Jakarta-Bandung, dan ini sebelum tol Cipularang dibangun, sehingga ia harus naik kereta api atau pesawat setiap senin pagi dan jumat malam. Konsekuensinya, Ibu harus membesarkan tiga anaknya sendiri akibat keadaan ini. Tapi ia berhasil melakukannya dengan baik dan berkelas.

Ibu adalah seorang yang kuat dan mandiri, saya rasa tak heran jika saya pun ingin tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri seperti ia. Kami memiliki banyak kesamaan: keras kepala, emosional, dan tak ragu menyuarakan pendapat yang kami anggap benar. Berpengalaman menikah di usia muda membuatnya melarang keras anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. Ia selalu berkata, “Sebagai perempuan, kamu tidak boleh tergantung pada suami. Sekolah yang tinggi, raih penghasilan sendiri. Kalau sudah begitu, baru kamu boleh menikah.” Memiliki teladan seperti Ibu membuat saya tumbuh memiliki segudang ambisi dan cita-cita. Itu karena saya ingin meraih hal-hal yang tak sempat Ibu raih karena menikah di usia muda.

Namun demikian, menjadi orang tua semi-tunggal seperti Ibu bukanlah perkara mudah. Bayangkan, suatu hari anak laki-lakimu bertanya, “Bu, mimpi basah itu apa sih?” ketika kau sudah melewati suatu hari yang melelahkan dan hanya ingin bersantai meminum kopi dan menonton sinetron. Namun di situasi seperti itu Ibu hanya tertawa geli dan berkata, “Telepon ayahmu sana!” Ini bukan persoalan tabu atau tidak membahas seks di rumah kami, ini mengenai betapa hebatnya mereka menjalankan pengasuhan jarak jauh sehingga tak satu pun di antara anak-anaknya yang merasa kekurangan kasih sayang. Mereka mampu mengisi kekosongan yang direbut oleh jarak dan melengkapi satu sama lain, meski tak selalu berdiri berdampingan. Dalam pengasuhan orang tua, sangat penting bagi setiap pihak untuk mengerti perannya masing-masing.

Bagaimanapun juga, jika boleh jujur, orang tua saya pun tidak sempurna. Pola pengasuhan mereka pada awalnya pun memiliki cacad. Sewaktu kecil, saya merasakan sakitnya kekerasan verbal maupun fisik sebagai akibat dari kerasnya orang tua saya berusaha mendidik. Contohnya waktu saya duduk di kelas 1 SMP dan ingin pergi menonton film bersama teman-teman. Masalahnya, saya baru saja lulus dari SD Islam yang cukup disiplin dan melanjutkan ke SMP negeri yang aturannya lebih longgar. Orang tua saya khawatir saya akan salah pergaulan dan mengembangkan kebiasaan buruk, seperti merokok, membolos, dan sebagainya.Maka orang tua saya melarang pergi menonton tanpa pengawasan orang dewasa. Akibatnya terjadi perdebatan panjang, suatu hal yang tak asing di rumah saya pada masa itu.

Pahitnya pengasuhan keras orang tua saya alami selama saya kecil, padahal saya yakin saya bukan anak yang nakal. Saya selalu mempertahankan prestasi belajar tak kurang dari peringkat tiga besar di kelas. Kerasnya orang tua membuat saya tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan sekaligus tertutup. Lambat laun orang tua saya menyadari bahwa kekerasan bukanlah teknik pengasuhan terbaik. Kini mereka bersikap lebih lunak dalam menghadapi adik-adik saya.

Pada suatu titik saya bersumpah tidak akan menjadi seperti orang tua saya jika punya anak nanti, tetapi setelah menjadi guru kini, saya melihat bahwa segala hal yang tidak saya setujui dari orang tua saya menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar, dan kekurangan seseorang sesungguhnya menyempurnakan ketidaksempurnaan. Orang tua saya tidak sempurna, tetapi saya tahu, mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menjadi sempurna. Jika saya refeksikan kini, tanpa pengasuhan keras yang dilakukan orang tua saya, mungkin saya akan tumbuh tanpa tekad dan cita-cita yang kuat, dan menjadi orang yang tak memiliki idealisme yang kukuh. 

Memiliki orang tua yang jauh dari ideal nyatanya berhasil. Mungkin bahkan tak ada satu cara yang ideal mengenai bagaimana mendidik anak. Seandainya saya membuang semua teknik pengasuhan yang kurang baik yang saya rasakan di masa kecil dan melahap semua buku di perpustakaan tentang parenting pun, belum tentu saya akan menjadi orang tua yang sehebat orang tua saya. Menjadi orang tua, pada esensinya, merupakan suatu proses pembelajaran yang tiada akhir.

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung – 19 Agustus 1978 )

Neneng Jadi Pengibar Bendera


Di suatu Selasa siang yang terik, aku masuk ke kelas 5 karena sesuai jadwal aku harus mengajar matematika di kelas tersebut. Terkejut kulihat seorang muridku merah matanya. Wajahnya bersimbah air mata. Kutanya, "Mengapa Neneng menangis?"

Ya, Neneng panggilannya. Kata guru-guru ia memang lambat dalam belajar. Beberapa murid pun entah mengapa terkadang tampak enggan berteman dengannya. Namun di rapat kelas sehari sebelumnya Neneng bersemangat mengajukan diri untuk menjadi petugas upacara. Jadi pengibar bendera, lebih tepatnya.

Memang ini sudah memasuki minggu keduaku mengajar di SDN 019 Long Kali, Desa Maruat, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Hari Senin kemarin adalah kali pertama sekolah kami kembali menghidupkan upacara bendera setelah sekian lama vakum. Yang menjadi petugas upacara di hari Senin kemarin adalah siswa-siswi kelas 6, dan minggu berikutnya giliran murid kelas 5 yang menjadi petugas. Untuk membiasakan budaya musyawarah di sekolah, kubiasakan murid-murid sendiri yang menentukan siapa yang menjadi petugas upacara dalam musyawarah kelas. Ketika Neneng mengajukan diri, semua setuju. Kulihat matanya berbinar-binar penuh semangat. Namun mengapa hari ini ia tampak sedih?

"Kata teman-teman saya bodoh, Bu. Tidak bisa diajari. Tidak bisa jadi petugas," ujar Neneng, masih dengan berlinangan air mata.

Tentu aku semakin terkejut. Bukannya tidak biasa menemukan anak-anak mengata-ngatai temannya sendiri, namun kali ini kulihat sendiri di depan mataku seorang anak betul-betul 'patah hati' akibat dari perkataan temannya sendiri.
"Betulkah ada yang menyebut Neneng tidak bisa diajari?" tanyaku. Semua diam. Salah satu murid akhirnya menyahut, "Yang bilang anak kelas 6, Bu!"

Aku terdiam. Tak ada gunanya juga mencari-cari siapa yang mengatakan apa. Bisa makin panjang urusan.
"Teman-teman, ketika seseorang mengajukan diri untuk jadi petugas, tandanya apa?" tanyaku. Murid-muridku saling pandang, mungkin bingung mau menjawab apa. "Itu tandanya dia mau belajar. Betul tidak?" tukasku lagi.

"Betul, Bu!" sahut mereka.

"Nah, kalau teman kita mau belajar, apa boleh kita menghalangi?" ujarku.

"Tidak, Bu!"

"Kalau begitu kita berikan kesempatan kepada Neneng untuk belajar ya? Semua setuju ya?"

"Setuju, Bu!"

Ketika kukira kami bisa lanjut untuk mulai belajar, tiba-tiba Neneng menyambung, "Sudah, Bu. Saya mundur saja, ndak jadi petugas." Rupanya masih dongkol ia. "Sudah, sudah. Lupakan. Ibu yakin kamu bisa, jadi kamu juga harus yakin ya?" Sedih rasanya melihat perkataan teman menjatuhkan kepercayaan dirinya seperti itu. Namun akhirnya kuyakinkan Neneng untuk tetap menjadi petugas pengibar bendera Senin depan.

Petugas upacara berlatih setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu menjelang upacara. Maka Kamis pagi sebelum kelas masuk kupanggil Neneng beserta dua kawan pengibarnya, Jais dan Lutfi, untuk berlatih. Awalnya memang sulit melatih anak-anak yang tidak terbiasa dengan baris berbaris ini untuk bisa berbaris dalam gerakan yang teratur dan seragam. Kulihat Neneng bahkan beberapa kali nyaris putus asa karena ia merasa kesulitan menghapal aba-aba dan gerakan-gerakan yang harus dilakukan. "Bu, saya mundur saja Bu, saya tidak bisa," tukasnya. Namun aku bersikeras, "Ibu yakin kalian bertiga bisa. Ayo kita latihan satu kali lagi!"

Kalau boleh jujur, aku memang merasa sedikit khawatir dengan petugas upacara kali ini. Minggu lalu ketika melatih kelas 6, rasanya tidak sesulit ini. Tapi kuingat pesan Pak Munif Chatib di pelatihan intensif Pengajar Muda, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Sebagai pengajar, kita harus sabar dalam membuka 'peti harta karun' yang dimiliki setiap anak. Namun rupanya kesabaran murid ada batasnya juga. Sudah bosan mereka kuminta berkali-kali mengulangi gerakan jalan di tempat dan langkah tegak maju jalan. Akhirnya kuizinkan mereka untuk menghentikan latihan di hari Jumat, untuk dilanjutkan di hari berikutnya.

Di hari Sabtu, aku harus pulang lebih awal karena harus menuju Tanah Grogot untuk rapat koordinasi dengan tim Paser. Oleh karena itu kutugaskan petugas upacara minggu lalu, yaitu siswa-siswi kelas 6 untuk melatih adik-adiknya. Ini sengaja kulakukan, supaya timbul kesadaran dari diri siswa sendiri untuk saling membantu dalam latihan upacara. Supaya ke depannya mereka tidak harus bergantung pada guru maupun PM yang bertugas di sekolah tersebut untuk menjalankan upacara. Sepanjang perjalanan menuju Tanah Grogot dan kembali pulang, tak henti-hentinya aku berdoa, semoga Neneng dan kawan-kawan dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Akhirnya hari Senin yang ditunggu-tunggu datang juga. Kupasangkan selempang bertuliskan 'Petugas Upacara' pada murid-murid yang bertugas. Kuajak semua petugas untuk menyatukan tangan dan berdoa bersama sebelum menjalankan tugasnya.

Tibalah giliran Neneng, Lutfi, dan Jais mengibarkan bendera. Diam-diam kusilangkan jari-jari tangan di belakang punggung, berdoa semoga tidak terjadi kesalahan. Namun ternyata dugaanku salah. Dengan lancar Neneng sebagai pembawa bendera memimpin aba-aba baris berbaris yang awalnya sulit ia hapalkan itu. Pun ketiga muridku itu dengan gagah mampu membawa Sang Merah Putih berdiri tegak di puncak tiang. Ketika mereka kembali ke barisan, aku bertepuk kecil di belakang. Kuacungkan dua jempol. Neneng tersenyum senang.

Ketika tiba giliran kelas 4 berlatih upacara di Jumat berikutnya, kulihat Neneng dengan bersemangat membantu adik kelasnya berlatih. Rasa malu dan tidak percaya diri  tak kulihat lagi di wajahnya. Aku bangga, Neneng berhasil jadi Pengibar Bendera. :)

Oktavina Q. Ayun
Pengajar Muda Paser

#SelamatkanAnakBangsa : Cintai Buku, Matikan Televisimu

Dengan konten televisi lokal kita yang memprihatinkan, serta sangat minimnya tayangan yang mendidik, apalah ruginya mengurangi waktu 2-3 jam sehari untuk mematikan televisi dan membaca buku? Membaca buku membuka imajinasi, menambah pengetahuan, memperkaya kepribadian, dan terlebih lagi: HEMAT ENERGI.

(sumber gambar)

Pikirkan kembali, berapa jam dihabiskan di dalam rumahmu untuk menonton televisi? Berapa unit televisi yang dikuasai masing-masing anggota keluarga? Berapa jam waktu terbuang yang sebetulnya dapat digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga, bertatap muka, atau melakukan hal-hal yang betul-betul bermanfaat?

Di dalam era informasi sekarang ini, informasi mengalir deras dengan cepatnya, hingga terkadang sulit untuk memilah-milah informasi mana yang baik dan informasi mana yang buruk. Televisi berperan besar dalam mempengaruhi perilaku generasi muda dengan mudah ke arah yang negatif: mempengaruhi mental, sikap, pola pikir, gaya hidup konsumtif, dan lain-lain. Sebut saja sinetron-sinetron yang seringkali tidak menawarkan pesan moral yang baik --perilaku tidak sopan terhadap yang lebih tua, bersikap kasar pada teman sebaya-- (ditambah akting yang buruk dan alur cerita yang klise), atau reality show semakin terlihat tidak real, serta infotainment yang mengaburkan nilai-nilai prinsipil yang perlu kita pegang. Di atas semua itu, televisi menjadikan bangsa kita bangsa yang dramatis: segala hal dijadikan drama berlebihan: kekalahan di kontes dihadapi dengan tangisan, sidang wakil rakyat menjadi bahan tertawaan). Apa yang betul-betul dapat kita pelajari dari berjam-jam menonton televisi? Mana kontrol yang sepatutnya dilakukan oleh otoritas atas informasi yang dapat diserap pemirsa, terutama generasi muda?


Di kala lembaga pertelevisian kita menolak untuk memilah-milah hal tersebut untuk kita, tangan kita lah yang memegang kontrol: Matikan televisimu! Mulailah membaca buku.


Sangat banyak yang dapat kita peroleh dari sebuah buku. Banyak cerita rakyat Indonesia yang mengajarkan kepahlawanan dan sikap santun terhadap orang tua, hal-hal yang mengingatkan kita akan identitas diri sebagai bangsa timur. Hidupkan kisah perjuangan para pahlawan, supaya generasi muda lebih menghargai perjuangan meraih kemerdekaan, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Pergi berpetualang ke Mesir atau Lembah Amazon, pelajari kebudayaan dan peradaban baru. Gunakan imajinasi dan rasakan petualangan yang mendebarkan!


Buku membuka ranah imajinasi, membiarkan kepribadian kita berkembang kepada segala kemungkinan, membuka forum-forum diskusi yang mendekatkan hubungan persaudaraan, membawa kita ke tempat-tempat baru tanpa harus jauh-jauh beperjalanan, dan membiarkan kita bermimpi setinggi-tingginya, membentuk cita sejak dini. Ajak adik, keponakan, anak-anak kita untuk belajar mencintai buku. Bacakan mereka buku, jauhkan mereka dari televisi, terutama dari program-program yang kurang mendidik. Pun ketika menonton tv, bantu mereka memilah mana program yang baik, dan matikan tv ketika sudah waktunya untuk tidur dan belajar. Bawa mereka bermain ke luar: hidupkan petualangan yang tadinya hanya dinikmati secara pasif dari tayangan televisi. Jangan biarkan generasi muda menjadi generasi yang terpaku pada kotak 32 inci, yang tak bisa mengembangkan khayalan dan kepribadiannya sendiri.


Matikan televisi, dan mulailah membaca buku. Biarkan otakmu berpikir untuk dirimu sendiri, jangan biarkan televisi berpikir untukmu. Sisihkan waktu untuk membaca, membacakan buku untuk adikmu, dan mendiskusikan isi buku dengan seluruh anggota keluarga. Selain menghemat energi, kegiatan ini juga bisa meningkatkan intensitas kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama.


Membaca buku juga merupakan kegiatan yang murah sebetulnya, sayangnya tak semua keluarga Indonesia memiliki akses untuk memperolehnya. Oleh karena itu, coba tengok sekelilingmu. Adakah masyarakat yang membutuhkan akses kepada bacaan-bacaan bermutu? Mengapa tidak menggalang buku-buku dari perpustakaan pribadimu atau kawan-kawanmu untuk dibuat taman bacaan atau perpustakaan di komunitas yang membutuhkan? Atau coba akses @Penyala, dan mungkin seorang anak dari pulau terluar Indonesia dapat menikmati petualangan favoritmu ketika kecil dulu. Aksi-aksi sederhana yang dimulai dari diri sendiri dapat menjadi pemicu untuk menjadikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Maka, mari bersama-sama #SelamatkanAnakBangsa. Jauhkan mereka dari pengaruh negatif yang bersumber dari media. Cintai buku, matikan televisimu.


Tentang Jalan dan Perjalanan


Saya percaya semua orang bisa memilih jalan hidupnya masing-masing.

Selepas kuliah, senang sekali melihat update di dunia maya dari teman-teman yang mendapat pekerjaan di perusahaan anu, melanglang buana ke negeri inu, dan melanjutkan studi ke universitas unu. Saya pun bersyukur mendapat kesempatan untuk banyak belajar dalam dunia yang ingin saya geluti, berkenalan dengan banyak orang hebat, dan belajar banyak dari orang-orang tersebut dalam kurun waktu beberapa bulan setelah lepas dari bangku kuliah. Mungkin tak banyak orang yang bisa seberuntung saya. Tidak dalam hal materi, namun dalam hal kekayaan pengalaman dan pembelajaran. Dan ini tak selalu bisa dimengerti banyak orang.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa selepas kuliah saya tidak berminat mencari pekerjaan di bidang ini, di bank anu, di biro inu; banyak pula teman-teman orang tua saya yang menawarkan untuk mengenalkan saya dengan kenalannya yang punya perusahaan anu; dan yang lainnya sibuk menceritakan anak temannya yang mendapat beasiswa ini, inu, dan anu. Semuanya saya sambut dengan senyum mafhum. Saya menghargai tawaran-tawaran mereka, tetapi saya di sini tidak bermaksud mengikuti jejak siapa-siapa. Saya memiliki rencana dan telah menetapkan tujuan-tujuan. Jika saya tidak memutuskan untuk kuliah di benua anu atau bekerja di korporasi inu, berarti itu tidak termasuk rencana saya. Setidaknya belum. Untuk saat ini. Sederhana, bukan?

Rencana hidup saya mencakup sebuah proses pembelajaran yang amat panjang, dengan pilihan-pilihan yang harus diambil di sana-sini. Adalah cita-cita saya untuk menjalani hidup yang penuh arti, dan jika memungkinkan, membagi sebagian yang saya miliki untuk orang lain. Menurut saya, seseorang patut dihargai bukan atas seberapa banyak yang ia hasilkan untuk dirinya sendiri, namun seberapa banyak ia bermanfaat bagi orang lain. Jadi di sinilah saya, berusaha untuk mengisi hidup dengan lembar-lembar yang (saya harap) bermakna. Sudah cukup saya bergerak terlalu cepat, berusaha menjadi yang ada di garis terdepan. Kini saya hanya ingin berusaha menjadi, secara sepenuhnya dan seutuhnya. Melebur dengan waktu dan momentum yang menjadikannya bermakna.

Tentu terkadang merasa iri, melihat beberapa teman yang tengah berkesempatan melihat dunia. Berfoto di depan gedung A di negara X, di tempat-tempat yang terdaftar dalam bucket list saya untuk dikunjungi suatu hari nanti. Tetapi tidak mengapa. Saya yakin teman-teman tersebut berjuang keras untuk berada di posisi mereka. Tak perlu iri hati, semua orang punya perjuangannya sendiri. Tak usah juga memaksakan diri. Toh saya yakin dengan rencana-rencana saya. Dalam hidup, sudah beberapa kali saya diberi kesempatan untuk melihat dunia. Untuk lagi-lagi meminta kesempatan untuk berkelana rasanya sedikit tamak, padahal saya merasa belum memberi apa-apa dari perjalanan saya.

Maka sejak sebelum lulus kuliah, saya memutuskan bahwa untuk sementara ini saya tidak akan mengejar apa-apa, atau setidaknya, apa yang dipandang orang prestige semata. Saya pikir, saya hidup di dunia ini tidak untuk membuktikan diri kepada siapapun. Saya memilih menekan ego saya, memilih mengambil jalan yang sederhana untuk belajar sebanyak-banyaknya. Menetapkan langkah-langkah yang akan diambil, satu demi satu. Kita toh bisa berlari saat ini karena langkah kecil yang kita ambil selagi masih balita. Itu yang saya percaya.

Saya yakin jika kita berusaha, suatu hari nanti akan bisa mencapai puncak-puncak dunia. Beberapa dari kita mungkin melangkahkan kaki dengan gemilang, lebih tinggi dari yang lainnya. Untuk mereka yang harus memulai dengan merangkak dari bawah, tidak apa-apa. Asal terus yakin dan berusaha. Kurasa selama kita tahu arah mana yang kita tuju, kita akan tahu ke mana harus melihat. Yang sulit adalah jika kita hanya mendamba, tanpa tahu arah hidup kita sebenarnya. Saran saya, definisikan dengan jelas, fokuskan pikiranmu terkonsentrasi pada tujuan itu, dan semesta akan membantu kita menemukan jalan kepadanya.


Kontra

Selama ini saya selalu bertanya-tanya, mengapa jalan pikiran saya hampir selalu berkebalikan dengan jalan pikir kebanyakan orang. Maksud saya benar-benar berkebalikan. Bertolak belakang. 180 derajat. Apa ada yang salah di kepala saya? Apa ada bagian dari otak saya yang tertinggal dalam proses evolusi? Saya punya semangat yang tinggi, tetapi terkadang sedikit penolakan bisa melukai terlalu dalam, sehingga semangat itu bisa meluruh, dan saya jatuh pada keraguan. Pada kenyataannya saya takut. Takut menghadapi banyak hal. Takut salah mengambil keputusan. Kepercayaan diri tampaknya hanyalah benteng yang saya bangun untuk mencegah agar orang lain tahu ketakutan-ketakutan terbesar saya. Mencegah orang lain masuk terlalu dalam dan mengenal saya yang sebenarnya. Tetapi terkadang saya terbuai dalam alter identitas ini, dan mempercayai bahwa saya sebetulnya memang berani. Lalu ada suara kecil yang menjatuhkan, dan saya terduduk dan kembali teringat, bahwa saya seorang pengecut kecil yang berdiri di belakang benteng keangkuhan yang diperoleh dari sedikit pemahaman tentang dunia. Mungkin saya terlalu berambisi untuk menjadi makhluk sosial. Mungkin saya selama ini terlalu berpretensi, ingin menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna. Bentuk kemunafikan, saya yang memandang rendah orang-orang yang terlalu ingin menjadi bagian dari sesuatu, padahal saya pun tak ubahnya demikian. Saya sedang jatuh pada titik yang sangat rendah. Saya tengah mempertanyakan integritas saya sendiri. Sepertinya saya memang ditakdirkan menjadi makhluk anti-sosial, dan mungkin seharusnya begitu. Mungkin sekarang saya harus berhenti mencoba terlalu kuat, karena sebetulnya saya tidak semampu yang saya kira. Mungkin saatnya saya harus berhenti menjadi sesuatu, dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti orang lain.

Ya, mungkin seharusnya begitu.

Rembulan Merah

Rembulan merah mengintip dari balik kelambu, dan sebatang rokok kunyalakan malam ini. Kuhisap dalam-dalam getirnya, toh ini akan menjadi yang terakhir. Sayup-sayup kudengar lantunan tembang dangdut picisan dari warung rokok Bang Madun di gang seberang. Ditingkahi teriakan bapak-bapak bau keringat yang bermain gaplek setiap malam. Malas pulang, kalau tak membawa sepeser uang. Perut istri, perut lima anak minta diisi. Belum lagi si Rohmah menagih uang sekolah, uang seragam, uang buku, dan entah uang-uang apa lagi, curhat Bang Samad satu waktu. Aku hanya tersenyum maklum, dan menggamit sekantung indomi untuk santapan malam itu.

Rembulan merah masih membisu. Entah apa keluh kesah para suami malam ini.

Kuambil rokok sebatang lagi. Kurasa ini bisa jadi benar-benar yang terakhir. Dari kamar sebelah terdengar isak tangis tersedu-sedu. Tanti. Kulihat kemarin ia membeli test pack dari apotek di sebelah salon Mpok Minah. Mungkin Rembulan Merah tahu apa yang tidak aku tahu. Satu hal yang aku mengerti, pacarnya sedang merantau ke negeri jiran. Menimba ringgit untuk bekal pernikahan. Kurasa janur kuning bakal terpasang lebih cepat dari yang direncanakan. Tetapi undangan yang dipesan harus berganti nama pasangan.

Aku tertawa kecil. Dunia ini getir, sayang. Dan tak ada yang bisa dilakukan sang Rembulan Merah kecuali menggantung di langit mendung, mengintip ke dalam jendela gadis-gadis muda dengan pakaian dalam berenda. Sayang, sungguh sayang.

Ini membuatku teringat akan dirimu, satu-satunya ‘sayang’ dalam hidupku. Kuputuskan, malam ini akan kutulis sepucuk surat padamu, kekasih hatiku.

Mereka bilang surat is so last year, tapi aku tidak peduli. Tidak sms, tidak email, tidak kata-kata manis di dinding Facebook bisa mewujudkan emosi yang tertumpah dalam sepucuk surat yang bisa kau baca ulang, kau lipat kecil dan kau masukkan dompetmu, untuk kau baca lagi ketika rindu. Ya, sudah lama sekali aku tak menulis surat padamu, mungkin kau sudah lupa bagaimana melafal merdu namaku.

Tapi pertama-tama, kumatikan dulu batang rokok yang terakhir, lalu kutarik batang ketiga. Kusulut bara api di ujungnya, ia menyala merah seperti rembulan yang tersenyum jahil di luar jendela.

Aku tahu kau membenci batang-batang rokok yang membuat ciumanku terasa seperti dasar asbak di bibirmu, tetapi apa yang bisa kau lakukan malam ini, pacarku? Kau berada jauh tak ubahnya sang rembulan merah. Pun ia bisa mengintip ke sela-sela jendelaku, mengintai seraya aku berganti baju, melihat bulir-bulir keringat berjatuhan dari leherku ketika aku menghirup batang-batang rokok di dalam kamar kos gerah dan bau apak. Tak bisa kau usap air mataku, andai malam ini aku duduk tersedu sedan meratapi rembulan. Karena kau sibuk di peraduan, menciumi istrimu yang mungkin telah menyiapkan sedikit kejutan.

Maka rokok ini saja penggantimu. Ia rahasia kecilku. Hanya dia, aku, dan rembulan merah yang tahu.

Maka kutulis sebaris kalimat yang sedari tadi membuncah di dalam dada, di atas selembar kertas yang kutujukan kepadamu:

‘Selamat hari ulang tahun pernikahan sayang, untuk kamu dan istrimu.’

Dan kuselipkan ke dalam amplop, pakaian dalam berwarna merah yang kucuri dari tiang jemuran tadi siang. Mungkin milik Tanti, kurasa ia takkan keberatan. Ada hal yang lebih penting untuk ia risaukan. Kutulis alamat rumahmu di amplop, tanpa nama pengirim. Akan kuminta loper koran langgananmu menyelipkannya di kotak surat besok pagi. Aku tahu, siapa yang mengambil koran untukmu setiap pagi layaknya seorang istri berbakti.

Di kejauhan, dangdut pantura membahana, meredam geram kemarahan suami-suami yang pulang dengan kantong agak tipisan. Di balik dinding tripleks yang kusandari, isak tangis Tanti semakin menjadi. Katanya tengah malam nanti ada gerhana, makanya rembulan berwarna kemerahan. Tapi siapa yang peduli? Mungkin kau akan dicerai istrimu esok hari. Kupilih untuk tidur nyenyak malam ini.


Tangerang Selatan/16 Juni 2011

Memorabilia Masa Muda

UTS kuliah Sejarah Desain, Semester 7, tahun 2009. Rasanya terlalu sayang untuk dibuang. Mungkin bisa membuka diskusi, karena setelah saya baca sekarang, tampaknya ada beberapa hal yang masih dapat didiskusikan. Selamat menikmati. :)

Pertanyaan:
Apa saja substansi yang terkandung di dalam International Style dan strategi apa yang harus kita jalankan bagi kemajuan dunia Desain Indonesia?

Perkembangan International Style dipengaruhi oleh perubahan sosio-kultural yang terjadi di tengah masyarakat barat semenjak revolusi industri pada abad 19. Revolusi Industri tidak hanya menandakan awal era imperialisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mempengaruhi selera masyarakat dengan semangat ‘kebaruan’ dan modernitas. Revolusi Industri membuka cara pandang dunia ke arah pemikiran yang lebih rasional. Karya-karya arsitektur yang berkembang pada masa tersebut pun cenderung sederhana dari segi bentuk, jujur terhadap material, serta fungsional sebagai akibat dari konsekuensi logis dari pendekatan desain yang dilakukan.

Substansi dari International Style adalah fungsionalitas, rasionalisasi dan simplifikasi bentuk, serta generalisasi langgam arsitektur secara global. Prinsip form follows function yang diangkat oleh arsitek Louis Sullivan pada tahun 1948 menekankan fungsi interior bangunan dan strukturnya untuk direfleksikan pada ekspresi interiornya. Hal ini menuntut arsitek untuk mendesain suatu bangunan se-simple dan seefisien mungkin, karena fungsionalitas adalah elemen terpenting dari bangunan. Simplifikasi bentuk merupakan implikasi dari prinsip kejujuran terhadap material serta peniadaan ornamen yang tidak fungsional terhadap bangunan. Hal ini sebagai akibat dari perubahan sistem produksi dari manual menjadi mekanis, yang memungkinkan produksi massal terhadap material bangunan seperti beton, baja, serta kaca sebagai material utama bangunan di era International Style.

Penekanan pada kata ‘internasional’ didasari pemikiran bahwa karya arsitektur tidak perlu merujuk kepada sejarah lokal maupun nilai-nilai vernakuler yang dianut di suatu tempat. Bangunan berkonsep pilotis seperti Villa Savoye rancangan Le Corbusier secara logis dapat dibangun di lokasi mana pun di dunia. Tetapi prinsip ini kemudian mendapat tentangan dari pengamat arsitektur yang beranggapan bahwa generalisasi yang diusung International Style terlalu monoton dan tidak memiliki identitas budaya, sehingga tidak dapat dibedakan antara karya arsitektur di suatu negara dengan negara lainnya.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa International Style berkembang karena adanya revolusi intelektual di kalangan masyarakat. Kritik yang menyebut International Style ‘tidak manusiawi’ karena tidak adanya identitas budaya yang direfleksikannya dapat menjadi titik strategis bagi desain Indonesia untuk mengembangkan jati dirinya. Kebudayaan merupakan suatu identitas unik yang dapat membedakan satu bangsa dengan bangsa lainnya. Arsitektur vernakuler, misalnya, sebagai warisan budaya masa lalu memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat memperkuat jati diri Indonesia sebagai suatu bangsa.

Nilai lain yang bisa kita pelajari dari berkembangnya International Style adalah pengaruh teknologi dalam merevolusi gaya hidup dan pola pikir masyarakat. Dalam memajukan dunia desain Indonesia, penguasaan teknologi juga merupakan kemampuan yang signifikan. Strategi yang bisa dilakukan adalah dengan mengangkat kembali kearifan lokal tersebut serta nasionalisme dengan menggunakan media populer seperti internet, televisi, dan lain-lain. Selain itu, desainer atau arsitek muda Indonesia harus menggunakan kapasitas intelektualnya untuk mengambil esensi dari kearifan lokal tersebut dan mentransformasinya sesuai dengan tuntutan modernitas zaman, tanpa harus kehilangan jati diri.

Target Tahun Ini

Mungkin terlambat untuk resolusi tahun baru, tapi saya percaya aktualisasi diri tidak mengenal kata terlambat, ya toh? Anggaplah ini sebagai reminder pribadi. Saya letakkan di ranah publik, supaya, kalau kamu berkenan, ada yang bisa mengingatkan.

Oke, jadi resolusi atau target saya tahun ini adalah:
1. Membuka tabungan rencana pendidikan & asuransi
2. Mulai belajar bahasa Perancis
3. Beli iPod dengan uang sendiri :)
4. Menulis novel

Doakan saya ya, teman...

Penantian


Seperti awan yang mengharap panas matahari kan keringkan samudera hingga ke relung-relungnya,
aku menanti...

Menanti datangnya waktu hingga ku dapat tenggelam dalam pelukanmu.
Mengecup matamu dengan lembut setiap melepasmu ke gerbang mimpi,
ditemani selimut malam
lalu kita berjumpa lagi di bunga tidur sampai pagi menjelang.

Menunggu kau membawaku lari dari rutinitas dan kebiasaan,
memainkan melodi-melodi indah yang membuat bintang-bintang berdentingan,
menyeruak dalam harmoni
lalu kita berdansa di bawah sinar bulan.

Merindukan kau dan aku bersapa dalam satu bingkai jendela setelah satu hari yang panjang,
berbincang tentang apa-apa yang kita lalui sebelum malam datang.
Lalu matikan lampu,
dan kukecup matamu dengan lembut sebelum kita sama-sama menjemput mimpi tuk berdansa lagi.

Menanti hari-hari
kala kita bisa berbaring berdampingan, mengistirahatkan mata dengan bahagia.
Karna tahu kau kan ada di sampingku, ketika mata membuka...

Ketika Masih Jadi Kroco...


harus sabar dimarah-marahi, padahal kita bicara baik-baik.
dianggap bodoh, padahal sedang berusaha belajar biar pintar.
dikira tuli, padahal jaringan telepon sedang gangguan.
terima saja.
semoga ketika nanti suatu hari jadi atasan,
kita tidak memperlakukan orang lain seenaknya.
karena kita tahu tidak enaknya menjadi seorang kroco.


(ratapan hati setelah dimarahi orang yang notabene bukan atasan sendiri)

Sebenarnya Ini Nggak Penting Sih...

Jadi saya suka sebal sendiri kalau dibilang sok barat, sok bule, padahal saya ngga maksud pamer. Benar-benar ingin cerita, itu saja. Saya ngga suka pandangan mereka yang skeptis atau meledek, walaupun hanya bercanda. Misalnya suatu kali saya cerita tentang kemampuan masak saya yang rendah, sebatas sandwich, egg-salad, rosti, yang pasti kalah dibanding mereka yang bisa masak rendang, sambal goreng, atau tumis kangkung di usia saya. Atau di kesempatan lain saya bercerita tentang sistem transportasi di Amerika, semata-mata untuk perbandingan, dan toh hanya itu yang saya tahu karena itu satu-satunya benua yang pernah saya kunjungi selain Asia. Lalu saya dianggap pamer, dianggap sok barat lah, sok bule lah. Waktu itu sih saya ngga bawa cermin, tapi pasti wajah saya merah padam. Kesal. Tapi saya ngga ingin cari masalah, apalagi cari musuh. Ya biasanya saya diam saja. Tersenyum, seolah-olah memang sengaja pamer sambil balas bercanda. 

Tapi dalam hati tetap kesal.

Saya akui, beberapa pemikiran Barat dan pengalaman saya yang sedikit, tapi berarti itu sangat banyak mempengaruhi pola pikir saya. Apakah itu salah? Toh sejauh ini yang saya ambil atau saya contoh adalah hal-hal yang saya anggap baik. Dan kalau saya ingin bercerita, semata-mata karena itu berdasarkan pengalaman pribadi saya tanpa maksud pamer, apakah salah punya pengalaman?

Lucunya hal ini baru saya temui (lagi) baru-baru ini. Selama ini membicarakan hal yang sama dengan teman-teman kuliah atau teman SMA, saya tidak pernah merasa seperti ini ataupun menemukan tanggapan yang demikian. Mungkin memang benar, gegar budaya itu tak ada kata akhir selama kita senantiasa menemukan lingkungan baru dalam hidup. Mungkin saya tidak terbiasa bertemu orang yang demikian, pun mereka belum pernah bertemu orang yang se-tukang pamer saya (dalam anggapan mereka) sebelumnya.

Mungkin dari hal ini saya harus belajar untuk berhati-hati membuka mulut dan menjaga sikap. Saya perlu belajar untuk lebih rendah hati, langit itu berlapis-lapis: selalu ada yang lebih tinggi (begitu pula sebaliknya, selalu ada yang lebih rendah). Mungkin ini latihan saya untuk lebih rendah hati: bertemu dengan orang-orang yang menganggap pengalaman saya sebagai kekayaan yang senang saya pamer-pamerkan. Mungkin memang saya terlalu sering pamer, walau tak bermaksud begitu.

Yang jelas, saya hanya tak suka dihakimi. Atau mungkin saya terlalu sensitive. Mungkin saya sedang masa PMS. Ah, PMS. Enaknya jadi wanita, semua bisa kita salahkan pada PMS.


Pindah


Di hari kedua saya di Taman Kanak-kanak, saya menolak diantar dan ditunggui oleh ibu saya. Saya memilih naik mobil jemputan bersama teman-teman lainnya. Waktu itu usia saya belum genap lima tahun. Mungkin itu awal dari kemandirian saya. Saya merasa sudah besar.


Ibu menasihati saya di mobil yang membawa kami menuju tempat tinggal saya yang baru. Saya tidak boleh malas-malasan, katanya. Kalau di rumah mau apa tinggal bilang, habis makan tak perlu mencuci piring. Baju setiap sore saya terima, sudah wangi dan licin tersetrika. Sekarang tidak bisa begitu lagi. Semua harus diusahakan sendiri.


Saya hanya diam. Diam saya mengiyakan.


Waktu di Amerika, keluarga angkat saya tidak punya pembantu. Setiap anggota keluarga saling membantu, setiap orang punya kewajiban masing-masing. Tugas saya mengepel lantai dapur dua kali seminggu. Adik angkat saya yang laki-laki bertugas mengosongkan tempat sampah. Adik yang perempuan bertugas menyedot debu di karpet menggunakan vacuum cleaner. Kalau ingin uang jajan tambahan, kami biasa menawarkan diri untuk membantu mencuci mobil atau menjaga anak tetangga.


Tidak semua anak Indonesia terbiasa bekerja keras. Biasanya kita memiliki minimal satu orang asisten rumah tangga yang tugasnya membantu orang tua kita, terutama ibu, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Tidak terkecuali saya. Namun ketika di Amerika, saya harus beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Bangun pagi merapikan kamar tidur, lalu menyiapkan sarapan untuk sendiri, lalu setiap selesai makan mencuci piring sekenanya untuk kemudian diteruskan ke mesin cuci piring yang akan membersihkannya sampai bersih. Tidak sulit, karena waktu itu saya merasa harus tahu diri, namanya juga tinggal menumpang di rumah orang.


Sekembali dari Amerika, saya masih menyisakan sedikit kebiasaan tersebut. Tapi mau tidak mau harus diakui, kemalasan selalu datang menghampiri. Saya sudah jarang merapikan kamar lagi. Bergulung-gulung kertas menumpuk di salah satu pojok kamar, meja belajar nyaris tidak terlihat lagi permukaannya karena sudah tertutup buku-buku yang menumpuk. Mencuci piring nyaris tidak pernah. Menyapu dan mengepel kamar sendiri merupakan bagian dari keajaiban. Memasak sendiri masih sering, tapi setelah itu selalu meninggalkan tumpukan panci kotor untuk dicuci asisten rumah tangga.


Memikirkan ini, saya mengerti kekhawatiran Ibu.


Di tempat tinggal baru, Ibu khawatir saya akan membiarkan debu menumpuk setebal lima senti di lantai. Semut mengerumuni piring kotor sisa siomay di pojok kamar. Handuk terdampar di kasur setelah digunakan, menguarkan bau masam karena lembap dan jarang dijemur. Saya bisa membayangkan ini, mengingat kebiasaan di rumah yang biasanya hanya bermalas-malasan depan tv dan komputer.


Tapi saya sudah merencanakan kepindahan ini sejak lama. Walaupun tidak pernah sejelas kristal, gambaran tentang pindah dari rumah dan tinggal mandiri jauh dari orang tua sudah sering disiarkan ulang di benak saya sejak lulus SMA. Waktu itu tak yakin kapan dan bagaimana, tapi yang saya tahu, begitu ada kesempatan untuk hidup sendiri, saya akan mengambil kesempatan tersebut.


Bukannya tidak senang tinggal dengan orang tua. Oh, kalau makanan lezat selalu terjamin dan dompet terisi dengan ataupun tanpa meminta, siapa yang tidak senang? Tapi itulah, saya merasa kalau terus-terusan tinggal dengan mereka, saya tidak akan berkembang melebihi yang saya mampu, berbeda dengan jika tinggal sendiri.


Setiap dari kita butuh yang namanya aktualisasi diri. Itulah mengapa manusia butuh pencapaian, sekecil apapun. Maka bagi saya, pindah dari rumah orang tua adalah awal dari proses aktualisasi diri. Saya ingin belajar merasakan lapar dan tidak ada masakan tersaji di meja makan. Belajar bersusah payah mengejar angkutan umum, berdesak-desakan dengan wajah-wajah yang tidak familiar lainnya. Saya ingin belajar mengorganisasi diri, menentukan timeline dan mendisiplinkan diri. Mungkin mudah bagi orang lain, tapi bagi saya sangat sulit jika saya tidak keluar dari rumah orang tua saya yang sangat nyaman itu.


Selama saya masih tinggal dengan orang tua, saya akan tetap menjadi anak-anak karena diperlakukan seperti anak-anak. Jika terus begitu, bagaimana saya bisa berkembang?


Keadaannya tentu berbeda untuk setiap orang. Yang jelas saya tahu, saya membutuhkan kepindahan ini. Sama seperti saya meminta untuk tidak ditunggui ibu di hari kedua di taman kanak-kanak, saya butuh ini untuk mengatakan: 'Saya sudah besar.'


Mobil yang membawa keluarga saya kembali ke Bandung terlihat semakin mengecil. Meninggalkan saya untuk mengurus diri sendiri mulai saat ini. Saya sudah besar.

Alhamdulillah


Setelah semua kerja keras..
Tenaga
Uang
Air mata
Doa
dan (saya cukup yakin pada suatu titik,)
Darah

Kata yang ditunggu-tunggu..
terucapkan juga.

Alhamdulillah...

Lembaran baru akan dimulai segera.


Hilang


Kita pernah menjejak di atas pasir.

Kau dan aku,
mengukir rongga memori

Namun seperti apapun yang terekam
di atas pasir,
Kita
hilang dalam sekejap.
Terhapus jejak air,
mengikisnya jauh ke tengah samudera.

Gelitik




Apakah benar, birunya langit tergelitik putih awan? Mungkin saja awan geli pada langit biru, sehingga bentuknya seperti itu.


Penunggu Cakrawala

Lama sudah aku menjadi pengamat kisah cinta yang kau tuang berdua dengannya di ranah semesta. Membaca puisi-puisimu padanya yang membuatku berdegup kencang seolah mereka ditujukan untukku. Padahal bukan. Mereka untuk pengisi mimpimu. Pelagu melodimu. Bukan aku.

Tak terindahkan lagi aku mulai menyusun romansa kecil di sudut kepalaku. Tentang dirimu yang tak pernah melihat ke arahku. Pandanganmu selalu tertuju ke cakrawala. Ke romantika senja. Kepada dirinya yang sempurna, yang membuatmu sedih karena di dalam ceritamu, kau selalu mengejarnya. Selagi ia selalu beberapa langkah di depan, hanya sesekali menunggumu mensejajarinya, lalu kemudian berlari lagi beberapa depa.

Lambat laun ia tak hanya menjadi senja. Ia bercita-cita menjadi fajar. Bersikeras memaksa sayap merahnya menjadi keemasan. Kemilaunya menyilaukan.

Bahkan di tengah usahamu mengejarnya, kau terengah-engah. Ia tak lagi berlari, ia telah mengembangkan sayapnya, belajar terbang. 'Hei,' ujarmu, 'Kau mungkin bisa terbang karena kau serupa malaikat. Tapi aku manusia fana! Yang kau cintai karena ketaksempurnaan.'

Kau mencoba menyusulnya, berusaha membelai angkasa. Namun kau terjatuh di beberapa kesempatan: sayap kayumu tak jua membuatmu mampu melawan gravitasi.

Pada masa seperti ini aku, yang hanya mampu memandangmu di kejauhan, seringkali memekik tertahan, menahan napas, menahan rasa sakit dari dalam. Melihatmu terkapar tak berdaya seperti itu, aku harus memalingkan wajah berulang-ulang kali.

Pada masa seperti ini aku, yang wajahnya tak kau kenali, hanya bisa menggigit bibir penuh harap, memanggil-manggil namamu dalam hati. Berharap kau akan melihat ke arahku. Aku, yang tak berusaha menjadi siapa-siapa. Dan tak berharap kau menjadi siapa pun. Selain kamu, dan kamu seorang.

Suatu hari nanti kau akan lelah mencoba menyusul dirinya, yang tak bisa kau rantai ke tanah untuk bisa bersanding denganmu. Suatu hari nanti, kau akan berjalan lagi seperti biasa tanpa hiraukan dirinya dan sayapnya yang keemasan. Kau akan menjadi dirimu lagi, yang selalu kukagumi dan kuanggap sempurna, Sang Penunggu Cakrawala.

Lalu kau akan menemukanku di jalan setapak yang kau lalui. Suatu hari nanti.

Terima kasih untuk inspirasi.


Ruang

Setiap dari kita pasti memilikinya. Suatu ruang tak tersadari di dalam labirin keberadaan kita. (Kusebut labirin karena apa yang membentuk keutuhan seseorang manusia begitu rumit. Begitu kompleks. Multidimensi.) Dan keberadaannya mempengaruhi keberadaan kita, karena tanpanya kita bukan manusia seutuhnya. Seperti kepingan puzzle yang jika hilang tak akan mampu membentuk gambar yang utuh. Seperti menarik satu blok terbawah di permainan Uno Stacko, tanpanya keseluruhan dirimu bisa runtuh.

Ruang itu, adalah ruang di mana kau menolak untuk tumbuh dewasa. Tak peduli seberapa jauh kau telah berjalan di atas dunia, sebagian kecil dari dirimu pasti merindukan ruangan tersebut. Dan jika kau mau menyelam cukup jauh ke dalam dirimu, kau akan temukan ruang itu. Selalu sama seperti terakhir kali kau mengunjunginya. Ruang itu tak pernah berubah. Dirimu-lah yang berubah.

Kau bisa berkelana, berkeliling dunia dengan angkuh dan membanggakan keberanianmu. Mungkin kau punya seluruh pengetahuan yang membuatmu menjadi seorang cendekiawan dengan intelektualitas di atas rata-rata. Tetapi kau tak bisa mengelak, bahwa ruang itu ada. Ia begitu sederhana: ia hanya ada. Kau bahkan mungkin tidak menyadarinya, tetapi keberadaannya begitu dekat, hingga tercermin dalam raut wajahmu, dalam ekspresi emosimu; begitu pekat, hingga ia membayangi saat kau berkontemplasi; begitu lekat, hingga ia menaungi pilihan-pilihan yang kau ambil dalam jalan kehidupan.

Bayangkan raut wajah seorang anak kecil yang berbinar-binar ketika ia mendapat mainan baru. Lalu ia pamerkan mainan baru itu kepada teman-teman di kelasnya. Realitas itu tidak pernah berubah seiring kau bertambah dewasa. Hanya bentuk mainannya saja yang berubah. (thank you, Westhi, for the inspiration!)

Lalu ingatlah di sela kesibukanmu membuat perubahan di atas dunia, tiba-tiba kau merindukan hal-hal yang sederhana: perhatian dari orang-orang terkasih, rumah, dan seorang teman dalam kesendirian. Hal-hal yang sederhana, yang kau pelajari dari masa kanak-kanak yang mereka bilang naif. Begitu sederhana sehingga ia indah. Tapi juga begitu sederhana, hingga kita lupa bahwa kita memilikinya.

Kita sering terlarut dalam labirin yang kita buat, terlalu sibuk meninggalkan jejak yang semrawut dalam mengejar sebuah pencapaian, hingga kita terlupa bahwa kita memiliki ruang ini, yang begitu istimewa. Ia berdiri hening dalam kebisingan. Padahal di dalamnya sarat dengan memori bijak yang bisa mengajari kita, betapa berbahayanya dunia. Namun kita terlupa, karena terlalu larut dengan apa yang kita bisa, apa yang kita tahu, hingga kita berhenti bertanya.

Padahal ruangan itu memiliki esensi, dan kau kehilangan esensi dengan berhenti bertanya.

Tapi ia masih ada di sana, di dalam diri kita. Tak peduli kita sudah lupa jalan untuk kembali ke sana. Ia selalu ada. Tinggal bagaimana engkau menemukannya.


dirilis ulang dari http://oktavinaa.blogspot.com/, September 2008

Nasihat Dalam Diam

Adalah prasangka yang tak terhindar ketika kau mengatakan kami tak mengerti makna kekeluargaan. Mungkin kita hanya memakai kacamata yang berbeda. Akan kujabarkan apa yang kami lihat, supaya setidaknya, setelah membaca pesan ini, kau dapat mencoba melihat dari sudut pandang kami.

Bagi kami kekeluargaan adalah kepedulian yang tulus, kasih sayang yang tak terangkum kata-kata sederhana. Kepedulian, adalah tak tinggal diam ketika kau terjerumus dalam kejatuhan. Menegur jika kau melakukan kesalahan.

Kata-kata tajam mungkin tak terhindarkan, tetapi toh kau bukan lagi balita yang tengah belajar menjejak kaki. Beranjak dewasa, cobalah melihat tantangan di dalam kata-kata yang mungkin menyakitkan.

Jika kau kira keluarga yang harmonis adalah mereka yang senantiasa tersenyum manis di depanmu, mungkin kau melewatkan pisau tajam yang tersembunyi di balik punggung, berkilat di tengah keheningan.

Batas toleransi dan ketakpedulian amatlah tipis. Keluarga akan mengatakan di depanmu ketika kau mengambil langkah yang salah. Bukan meninggalkanmu berkubang dalam kesalahan dan penyesalan.

Maka kumohon jangan berkata kami tidak peduli. Kalau tidak peduli, dengan mudahnya kami dapat berbalik dan pergi memunggungi.

Bersikaplah lebih dewasa. Bahkan kata-kata paling tajam sekalipun dapat menyimpan kepedulian yang sangat tulus.

Daisypath Anniversary Years Ticker

Selamat Datang!

Ini adalah bagian kecil dari dunia saya, sepenggalan cerita. Setelah saya memutuskan bahwa Buon Giorno, Principessa! akan menjadi rumah bagi pikiran-pikiran yang tertuang dalam bahasa Inggris, saya merasa memerlukan ruang baru bagi celoteh-celoteh bahasa ibu yang kerap bising memenuhi benak ini. Maka, inilah dia. Cerita Principessa. Suatu ruang baru dalam kisah saya, yang suka dipanggil Principessa. Ruang pikiran, yang (semoga) lebih bersahaja karena bahasanya lebih kau kenal untuk kau resapi maknanya.

Maka selamat datang! Tak perlulah terburu-buru pulang..

Menyapa

Menyapa
Dalam ranah maya, sebut ia 'Principessa'. Di dunia nyata, ia hanya gadis kecil yg senang bercerita...

Yang disuka

Yang disuka
buku-buku

arsitektur

hot chocolate

sensasi kesendirian di kota asing

LOVE. don't we all? =)
Powered By Blogger

Para Pendatang